Langsung ke konten utama

Tekad Seorang Ibu Masa Depan

Malam ini berbeda dari malam-malam biasanya ketika saya membaca timeline facebook saya. Biasanya saya hanya akan membaca seluruh postingan dengan sikap emotionless. Tapi sebuah postingan mengenai tulisan Gilang Kazuya Shimura menanggapi tulisan Afi Nihaya Faradisa soal Agama "Warisan" mengusik hati saya.

Saya bukan ingin mengomentari konten Mas Gilang maupun Dik Afi. Saya hanya ingin bercerita kegundahan hati seorang Ibu di masa depan. 

 



Saya yakin semua orang setuju bahwa Dik Afi secara alamiah dianugerahi Allah kecerdasan yang luar biasa. Kemudian dirangsang oleh pengetahuan dari sekolah, sekumpulan buku yang dibacanya, dan faktor lainnya maka dia tumbuh menjadi anak yang mampu berfikir dan berpendapat secara kritis tentang lingkungan sekelilingnya. 

Bukankah anak cerdas seperti dik Afi idaman seluruh Ibu di muka bumi ini? Benar dan saya setuju. Lalu kenapa masih gundah? Sederhana saja, beri anak-anak pendidikan yang bagus, buku bacaan paling modern, dan berikan dia kebebasan dalam berpendapat. Bukankah begitu? Memang harusnya sederhana, tapi sepertinya bukan itu yang hati saya inginkan. 

Kegundahan saya muncul ketika tiba-tiba berbagai pertanyaan muncul di fikiran saya.  Bagaimana kelak anak saya tumbuh? Apakah akan menjadi anak yang cerdas? Namun kemudia saya tersadar, bukankah orang cerdas memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk membuat kerusakan di muka bumi ini? Lalu sebuah pertanyaan lain muncul, kalau begitu cerdas saja belum cukup untuk bermanfaat bagi bumi dan seisinya ini? Kemudian saya bertambah gundah, Ya Allah bagaimana kelak saya akan mendidik anak-anak saya? Apa yang harus saya tawarkan terlebih dahulu kepada mereka? Dan berbagai pertanyaan lainnya berputar-putar di fikiran saya.

Tiba-tiba saya teringat sebuah drama korea yang baru-baru ini saya tonton dengan judul "The Princess's Man". Di drama tersebut Guru yang mengajar tiga tokoh utama pria yaitu Kim Seung Yoo, Shin Myung dan Pengeran Pendamping sewaktu kecil merasa kecewa terhadap orang tua Shin Myung karena muridnya berubah menjadi seorang pengkhianat dan Ayahnya hanya membiarkan keadaan itu terjadi begitu saja. Sang Guru berkata "Bukankah kau yang memintaku mengajarkan kesetiaan kepadanya (Shin Myun) sebelum mengajarkan ilmu pengetahuan lainnya?" 

Di Joseon (jaman kerjaan korea) ternyata kesetiaan menjadi pencapaian tertinggi sebagai manusia. Maka sang Ayah mengharapkan anaknya menjadi orang yang setia sebelum menerima ilmu pengetahuan lainnya tentang dunia ini.

Sekarang saya benar-benar setuju bahwa memang benar seorang anak itu ibarat kertas putih. Ini bukan sekedar retorika, ini adalah sebuah ilmu pengetahuan yang disampaikan oleh John Lock dengan nama teori "Tabularsa". Menurut teori ini, anak yang lahir ke dunia tidak mempunyai bakat dan pembawaan apa-apa, seperti kertas putih yang polos. Oleh karena itu anak dapat dibentuk sesuai dengan keinginan orang dewasa yang memberikan warna pendidikannya. Kesimpulannya, orang tua lah yang mewariskan ntah itu kebaikan atau keburukan kepada sang anak sebagai modal dasarnya untuk hidup di bumi ini.

Lalu bagaimana dengan jaman modern ini? Apakah pencapaian tertinggi manusia itu? Ntah itu jaman modern atau bukan, kondisinya tetaplah sama, Allah katakan melalui ayat suci-Nya "Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku (Q.S Adz-Dzaariyaat : 56)

Jadi, pencapaian tertinggi manusia adalah untuk beribadah kepada Allah? Maka, biar tidak kalah soal prinsip dari orang tua Shin Myung yang mendahulukan  kesetiaan di bandingkan pengetahuan lainnya, saya bertekad bahwa anak-anak saya nantinya akan saya asuh mengenal Allah sebelum mempelajari pengetahuan lainnya. Akan saya hadiahkan Al-Quran -buku paling best seller di alam semesta- kepada mereka, yang kemudian atas kehendak Allah menjadi buku paling berpengaruh bagi kehidupan mereka. Sehingga, pada saatnya anak-anak saya siap menerima pengetahuan tentang alam semesta dan segala gejolaknya dengan keimanan. 

Jika suatu saat mereka akan berpendapat tentang seluruh alam semesta dan seisinya dari dunia sampai akhirat, maka logika mereka akan dituntun oleh pengetahuan yang diajarkan Al-Qur'an dan hadits. Bahkan jika suatu saat "warisan" yang mereka terima dipertanyakan, saya akan memberikan mereka kebebasan berfikir dan berpendapat tanpa perlu khawatir lagi karena Insyaallah, Allah bersama mereka.

Setelah berfikir kesana kemari dan menulis panjang lebar, saya juga tersadar bahwa menjadi seorang Ibu ternyata bukan hal yang mudah, ya . Untuk Mamak tersayang, terimakasih Mak, atas segala pengorbanan Mamak untuk kami, anak-anakmu. Semoga Allah menyayangimu sebagaimana engkau menyayangiku sewaktu kecil. Aamiin Ya Rabbal'alamin.. 

Untuk calon anak-anak ku, Insyaallah nak I prepare my self better to be your first teacher, Ibu masa depan kalian ini will walk her talk jika saatnya tiba,  saat dimana Allah mempertemukan kita. Aamiin Ya Rabbal'alamin.. 

Selamat menanti fajar for all my readers yang dirahmati Allah. 
XOXO

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Review] Esprecielo Allure - Japanese Green Tea Latte: Menikmati Green Tea ala Kafe di Rumah

Hi Assalamualaikum..

Selamat bertemu hari Jum'at yang penuh berkah. Hari ini aku mau berbagi review dari salah satu jenis minuman kesukaanku yaituuuuu.... green tea! Yeaaay!! Lebih tepatnya aku mau review matcha sih. Aku pertama kali nyobain matcha itu di Solaria dan langsung jatuh cinta.




[Review] The Path of Tears : Sebuah Karya Dita Safitri

Assalamualaikum..
Hai hai.. Happy-body how are you? Kalau aku lagi baik-baik aja seperti biasa dan sedang berbahagia karena cuaca Medan hari ini bersahabat. 
Kali ini aku mau review novel karya teman aku dong. Bangga
Jadi sebenarnya novel ini udah lama ada di aku sekitar tahun 2013 tapi baru terpikir mau ngulasnya hari ini. Teman macam apa kamu Pit?

[Review] Wardah Perfect Curl Mascara

Hi Assalamualaikum..
Aku balik lagi doooong~ Ada yang rindu ga? Perasaan ya haha… Bawa review produk lagi dong. Tapi kali ini produk make-up yaass.. Yang mau nungguin review makanan lain kali ya readers kesayangan. *sok udah punya readers*
Ada yang punya keluhan bulu mata? Kependekan? Ketipisan? Keturunan? *yang ini ambigu* maksud aku ga lentik gitu, ada ga? Aku dong bulu matanya ketipisan. Nah, kalau punya keluhan sama kayak aku berarti harus tetap baca tulisan ini sampai selesai yaaas..
Yang punya masalah soal bulu mata berarti harus berburu mascara dong kalau mau tampilannya lebih natural. Bisa aja sih disiasati pakai bulu mata tapi repot kan mak hari-hari nempelin bulu mata.
Produk yang aku review kali ini Perfect Curl Mascara dari Wardah. Let’s start it!